KURSI KOSONG DI UJUNG PERON
Kereta terakhir selalu berangkat pukul sebelas malam.
Itulah yang dikatakan penjaga stasiun kepada Raka ketika ia bertanya mengapa ada seorang perempuan tua yang setiap malam duduk di kursi paling ujung peron.
"Jangan diajak bicara."
Raka mengira itu hanya kebiasaan orang tua yang suka menakut-nakuti pendatang.
Sampai malam ketujuh.
Perempuan itu datang tepat pukul sepuluh lewat empat puluh. Ia mengenakan kebaya biru tua, membawa tas kain kecil, lalu duduk menghadap rel.
Raka akhirnya memberanikan diri.
"Ibu menunggu siapa?"
Perempuan itu menoleh.
"Anak saya."
"Naik kereta?"
"Seharusnya."
Kereta datang.
Perempuan itu berdiri.
Tetapi ia tidak naik.
Kereta pergi.
Ia kembali duduk.
Begitu terus.
Malam berikutnya Raka bertanya lagi.
"Anaknya ke mana?"
Perempuan itu tersenyum.
"Sudah lama pulang."
"Kalau sudah pulang, kenapa Ibu masih menunggu?"
"Karena dia belum tahu bahwa dia sudah sampai."
Raka merinding.
Pagi harinya ia mencari tahu dari penjaga stasiun.
Barulah ia mendengar cerita lama.
Dua puluh tahun lalu, seorang pemuda bernama Arman hendak pulang setelah bekerja di kota. Keretanya mengalami kecelakaan beberapa kilometer sebelum stasiun.
Ibunya datang ke stasiun setiap malam untuk menunggu.
"Ibunya masih hidup?" tanya Raka.
Penjaga stasiun menggeleng.
"Sudah meninggal tujuh tahun lalu."
Raka menatap kursi kosong di ujung peron.
"Kalau begitu, siapa yang saya lihat?"
Penjaga stasiun diam.
Malam itu Raka kembali ke peron.
Kursi itu kosong.
Untuk pertama kalinya selama tujuh malam, perempuan itu tidak datang.
Namun ketika kereta terakhir berhenti, Raka melihat seorang pemuda berdiri di antara penumpang.
Pemuda itu mengenakan kemeja putih dan membawa tas lusuh.
Ia turun.
Menoleh ke kursi kosong.
Lalu tersenyum.
"Maaf, Bu. Aku terlambat."
Setelah itu ia berjalan menembus kabut.
Raka tidak pernah melihatnya lagi.
Tetapi sejak malam tersebut, kursi di ujung peron tidak pernah terasa dingin.