SURAT DARI DIRIKU YANG BELUM LAHIR
Surat itu datang pada hari ulang tahunku yang keempat puluh.
Tidak ada nama pengirim.
Hanya sebuah kalimat di bagian depan amplop:
Untuk Ayah, sebelum aku lahir.
Aku tertawa ketika membacanya.
Aku tidak punya anak.
Bahkan tidak pernah menikah.
Namun di dalamnya terdapat selembar kertas.
Tulisan tangannya mirip tulisan tanganku.
Ayah, jangan menjual rumah itu.
Aku berhenti tertawa.
Rumah itu adalah rumah peninggalan ibuku. Aku memang sedang mempertimbangkan menjualnya karena membutuhkan uang.
Surat berikutnya datang seminggu kemudian.
Ayah, Ibu tidak akan suka kalau Ayah menjual rumah itu.
Aku semakin penasaran.
Setiap minggu sebuah surat datang.
Isinya tentang hal-hal yang belum terjadi.
Tentang seorang perempuan bernama Mira.
Tentang kecelakaan kecil di jalan.
Tentang sebuah pohon mangga yang akan tumbang.
Semuanya benar.
Sampai surat terakhir.
Ayah, aku tahu Ayah ingin bertemu denganku. Tapi kalau Ayah mengikuti semua yang tertulis di surat-surat ini, aku tidak akan pernah lahir.
Aku membaca kalimat itu berkali-kali.
Malamnya aku membakar seluruh surat.
Besoknya aku bertemu Mira.
Perempuan yang namanya selama ini hanya kukenal dari surat.
Kami berbicara berjam-jam.
Anehnya, semuanya terasa akrab.
Tiga bulan kemudian kami menikah.
Rumah tidak jadi kujual.
Setahun kemudian, seorang bayi laki-laki lahir.
Kami menamainya Arga.
Ketika ia berumur lima tahun, ia menemukan kotak tua di loteng.
Di dalamnya terdapat abu surat yang sudah terbakar.
"Ayah," katanya, "ini surat siapa?"
Aku tersenyum.
"Surat dari masa depan."
Arga tertawa.
"Memangnya masa depan bisa menulis?"
Aku menatapnya.
"Kadang-kadang."
Ia berlari kembali bermain.
Aku membuka jendela.
Di luar, pohon mangga tua bergoyang diterpa angin.
Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Masa depan mungkin memang tidak pernah memberi kita kepastian.
Ia hanya memberi kemungkinan.
Dan mungkin itulah alasan mengapa kita masih bebas memilih.