KERAJAAN YANG KEHILANGAN RAJA

 Pada suatu pagi, seluruh penduduk Kerajaan Arvand bangun dan menemukan bahwa rajanya hilang.

Bukan meninggal.

Bukan diculik.

Hilang.

Mahkota masih berada di atas singgasana.

Pedang masih tergantung.

Sepatu masih tersusun di kamar.

Tetapi Raja Edran tidak ada.

Para penyihir mencari.

Tidak ditemukan.

Pasukan mencari ke seluruh penjuru negeri.

Tidak ditemukan.

Akhirnya seorang tukang kebun tua berkata,

"Jangan cari rajanya."

Semua orang menatapnya.

"Carilah alasan mengapa ia ingin hilang."

Tidak ada yang mendengarkan.

Kecuali Putri Alena.

Ia pergi sendirian.

Di luar kerajaan, ia menemukan sebuah rumah kecil di tepi hutan.

Seorang laki-laki tua sedang menanam kentang.

Alena berhenti.

"Ayah?"

Laki-laki itu menoleh.

Ia tersenyum.

"Akhirnya kamu datang."

Alena menangis.

"Kenapa Ayah meninggalkan kerajaan?"

Raja Edran menancapkan cangkul.

"Karena selama tiga puluh tahun aku memerintah agar rakyatku bahagia."

"Dan?"

"Aku lupa bertanya apakah mereka ingin diperintah."

Alena diam.

"Ayah ingin menyerahkan kerajaan?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Ayah ingin melihat apakah kerajaan bisa berjalan tanpa seorang raja."

Alena kembali ke istana.

Ia tidak menceritakan tempat ayahnya berada.

Sebaliknya, ia mengumpulkan rakyat.

Ia membuka gudang kerajaan.

Membentuk dewan.

Menghapus beberapa pajak.

Membiarkan desa menentukan aturan mereka sendiri.

Setahun berlalu.

Kerajaan tetap berdiri.

Bahkan lebih baik.

Suatu pagi, Edran kembali.

Tidak membawa pasukan.

Tidak membawa mahkota.

Ia hanya membawa sekeranjang kentang.

"Bagaimana kerajaan?"

Alena tersenyum.

"Baik."

"Siapa rajanya?"

Alena menunjuk rakyat yang sedang bekerja bersama.

"Tidak tahu."

Edran tertawa.

"Bagus."

Ia menyerahkan sekeranjang kentang.

"Kalau begitu, Ayah boleh jadi tukang kebun?"

Alena mengangguk.

"Mulai besok."

"Kenapa tidak hari ini?"

"Karena hari ini Ayah harus makan siang bersama rakyat."

Mantan raja itu tersenyum.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia duduk di meja tanpa ada seorang pun yang berdiri ketika ia datang.

Dan ternyata, itulah kebebasan yang selama ini tidak pernah ia kenal.

Postingan populer dari blog ini

NAMA YANG TERTINGGAL DI BATU NISAN

SURAT DARI DIRIKU YANG BELUM LAHIR