NAMA YANG TERTINGGAL DI BATU NISAN

 Setiap tahun, Damar datang ke makam yang sama.

Tidak ada tanggal lahir.

Tidak ada tanggal kematian.

Hanya sebuah nama:

Laras.

Orang-orang mengira Laras adalah kekasihnya.

Mereka salah.

Laras adalah perempuan yang pernah ditemuinya sekali.

Tiga puluh tahun lalu.

Saat itu Damar masih berusia tujuh belas tahun.

Ia sedang duduk di halte ketika seorang perempuan menangis di sampingnya.

"Kamu kenapa?" tanya Damar.

"Besok aku menikah."

"Terus kenapa menangis?"

"Aku tidak ingin menikah."

"Kalau begitu jangan."

Perempuan itu tertawa.

"Sederhana sekali."

Mereka berbicara sampai bus terakhir datang.

Sebelum pergi, perempuan itu memberikan sebuah kertas.

"Kalau suatu hari kamu menemukan makamku, datanglah."

Damar mengira itu lelucon.

Bertahun-tahun kemudian, ia benar-benar menemukan makam itu.

Laras meninggal muda.

Tidak ada yang tahu persis apa yang terjadi.

Damar mulai datang setiap tahun.

Ia membawa cerita.

Tentang pekerjaannya.

Tentang orang tuanya.

Tentang pernikahannya.

Tentang anak-anaknya.

Tentang hidup yang ternyata tidak pernah sesederhana nasihatnya dahulu.

Pada usia enam puluh, Damar datang lagi.

Ia duduk di samping makam.

"Lar," katanya, "aku baru sadar."

Angin bergerak pelan.

"Dulu kamu menangis karena takut menikah."

Ia tersenyum.

"Aku sekarang tahu kenapa."

Damar meletakkan bunga.

"Karena hidup kadang memaksa kita memilih antara apa yang benar dan apa yang bisa kita jalani."

Ia berdiri.

"Maaf aku baru mengerti setelah tiga puluh tahun."

Sebelum pulang, Damar melihat sesuatu yang belum pernah ia perhatikan.

Di belakang batu nisan terdapat ukiran kecil.

Terima kasih kepada laki-laki di halte yang pernah berkata: kalau tidak mau, jangan.

Damar menangis.

Bukan karena Laras telah pergi.

Melainkan karena selama tiga puluh tahun ia tidak pernah tahu bahwa satu kalimat sederhana yang ia ucapkan sambil bercanda ternyata pernah menjadi hal paling penting dalam hidup seseorang.

Postingan populer dari blog ini

KERAJAAN YANG KEHILANGAN RAJA

SURAT DARI DIRIKU YANG BELUM LAHIR